Rabu, 08 September 2010

berita duka dari seorang sahabat di hari pertama liburan

innalilahi.
sabbe sankhara annicca.
rest in peace.


ya sesuai dengan judul, tengah malam ini saya memang akan menulis tentang seorang sahabat saya.

sahabat di masa-masa sekolah menengah pertama saya, yang baru saja pergi.
bukan hanya pergi ke lembang, tapi sudah pergi ke dimensi lain.
yang saya tidak *atau belum* tahu dimana itu.

TASIA ROSE SALIM.


hari ini adalah hari pertama saya menjalani liburan saya.
setelah tidur 4 jam, menempuh 2 jam perjalanan untuk hijrah ke kota asal, saya pun makan bakmi, mengisi perut hasil akumulasi kelaperan di hari sebelumnya, dan menutup siang indah saya dengan tidur selama 6 jam.

baiklah saya tahu ini agak *SANGAT* tidak penting menceritakan rutinitas saya hari ini.
tapi di tengah2 keasyikan saya menjalani rutinitas tanpa beban itu,
seorang sahabat saya, elvina, menelpon saya.

saya sempat berpikir, 'weits tumben nih anak tau aja gw lg di jakarta'
lalu saya angkat dengan suara riang gembira, tapi malah saya disambut dengan isak tangisnya.

seingat saya, terakhir kali dia menelpon sambil sesengukan seperti ini, yaitu 3 tahun lalu, ketika dia tahu mantan pacarnya selingkuh.
karena sekarang dia lagi single, otak saya mikir, dia gak mungkin nangisin pacar yang selingkuh lagi kan?

atau mungkin ni telinga salah denger kali ya?
mungkin dia lagi ketawa. *karena sbnrnya suara ketawa sama nangis dia hampir mirip*

tapi ketika vina bilang tasia udah meninggal.
sistem saraf saya menolak semua informasi yang saya terima.
saya masih nanya 'hah? tasia siapa?'

vina: tasia! tasia temen smp kita! tasia rose salim!

otak pun masih setia menolak informasi.
bahkan masih sempat berpikir : hari ini tanggal berapa sih? bukan bulan april tanggal satu kan?

akhirnya realita pun berhasil menarik semua kesadaran saya ke masa sekarang.

masih dalam yakin gak yakin, percaya gak percaya, shock sangat shock,
saya tanya kenapa tasia bisa meninggal.
dan katanya tasia jatoh di kamar mandi.

that's all.
that's it.

otak saya masih coba mencerna lagi.
tapi rasanya susah.
percis kyk di saat bibir lagi sariawan 5 biji, tenggorokan lagi sakit, lidah lagi sakit gara2 kesetrum mic pas siaran, plus sakit gigi gara2 dicabut. yang pasti bakal susah mencerna makanan!
sama kyk susah mencerna alasan kenapa tasia meninggal.

sama kyk lambung kalo sakit maag, yang selalu menolak asupan yang masuk.
sama kyk otak saya yang dipenuhi dengan ego dan aroganis manusia awam, otak saya pun menolak untuk menerima alasan itu.

saya masih gak terima seorang sahabat saya, yang cantik; yang lemot tapi pintar;sudah dipanggil Tuhan.

bahkan keluarga saya, yang kenal dengan dia pun, tidak percaya bahwa tasia udah tidak ada.
mami saya pun masih ingat betul bagaimana dia suka jejingkrakan kalau main ke rumah saya.

dia masih umur 19 tahun. *malah masih 18 tahun, karena ulang tahunnya jatuh pada bulan desember*
kalo yang jatuh di kamar mandi adalah kakek2 umur 78 tahun, saya gak heran.
tapi setau saya, dia juga ga ada penyakit apapun.
lalu kenapa??

saya sedih ketika melihat wall to wall saya di facebook
saya sedih ketika melihat foto2 kami di masa smp dan di pertemuan terakhir kita di bulan februari 2010, ketika reuni
saya sedih ketika mengingat betapa lemotnya dia ketika diajak ngobrol
saya sedih ketika mengingat betapa hectic nya kita menyiapkan UAN bersama, pergi les ke rumah bu yo bareng, mempersiapkan 1st english competition di kala saya jadi ketua dan dia jadi koordinator sie acara, mempersiapkan graduasi dan perpisahan di kala smp, sampai belajar membuat pangsit di rumahnya.
saya sedih ketika mengingat masa2 latihan basket dan MD bersama
saya sedih ketika mengingat masa2 saya harus menutup-nutupi ketika dia masih pacaran backstreet
saya sedih ketika mengingat masa2 saya jadi mak comblang dia dengan teman saya
terlalu banyak yang saya sedihi

terlepas dari semua kesedihan dan pertanyaan bodoh saya itu, saya sadar dengan satu pernyataan yang memang sudah saya sering dengar, bahwa umur tidak ada yang tahu.

we never know what will happen next second. everything changes.

saya tahu kalimatnya. saya hafal. saya khatam malah.
tapi saya masih belum melekat dengan kalimat itu.

tapi tas,kepergian lu mengajarkan gw sesuatu.
ketika karma hidup ini sudah habis, ya habislah.
dia tidak peduli lu lagi di kamar mandi, atau pun sedang di tengah jalan raya, ataupun sdg di lantai 13 atap gedung.
berarti gw harus ngubah hidup gw. gak boleh nunda2 lagi apa yang mau gw kerjain. gw pun harus sebanyak-banyaknya berbuat baik, karena gak akan ada yang tahu kapan gw bakal pergi.

semoga lu tenang ya tas di alam sana. semoga semua kebaikan dan doa2 lu membuat lu dilahirkan di alam yang lebih baik lagi.

selamat jalan, tasia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar